ADPK

Beranda » MPR R.I » Mahyudin: Pemimpin Dan Tokoh Bangsa Harus Berpikir Sebagai Negarawan

Mahyudin: Pemimpin Dan Tokoh Bangsa Harus Berpikir Sebagai Negarawan

Daftarkan email disini agar anda ternotifikasi bila ada informasi dan kabar terbaru dari https://adpk.wordpress.com

Bergabunglah dengan 18 pengikut lainnya

Mahyudin: Pemimpin Dan Tokoh Bangsa Harus Berpikir Sebagai NegarawanPemimpin dan tokoh bangsa agar sudah tidak lagi berpikir mencari uang. Pemimpin dan tokoh bangsa harus berpikir sebagai negarawan bukan lagi berpikir sebagai politikus.

“Pemimpin dan tokoh bangsa agar sudah tidak lagi berpikir bagaimana mencari uang. Pemimpin dan tokoh bangsa harus berpikir bagaimana membangun bangsa dan negara,” kata Wakil Ketua MPR Mahyudin ketika memberi pengantar Sosialisasi Empat Pilar MPR kepada KNPI Kabupaten Penajam Paser Utara di Graha Pemuda, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Kamis (29/9/2016).

Sosialisasi yang diikuti sekitar 300 pemuda dan pelajar ini dihadiri Bupati Penajam Paser Utara Drs. H. Yusran Aspar, MSi, anggota MPR Hetifah (Fraksi Partai Golkar), H. Mohammad Mirza (Kelompok DPD) dan Agati Sulie (Fraksi Partai Golkar).

Dalam pengantarnya, Mahyudin mengungkapkan beberapa tantangan kebangsaan yang dihadapi Indonesia. Salah satu tantangan kebangsaan itu adalah kurangnya keteladanan sebagai pemimpin dan tokoh bangsa.

Mahyudin kemudian mencontohkan kasus penangkapan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap kepala daerah bahkan salah satu ketua lembaga negara. “Pemimpin atau tokoh bangsa jangan lagi berpikir mencari uang. Akhirnya bisa melakukan tindak pidana korupsi. Pemimpin dan tokoh bangsa harus berpikir sebagai negarawan,” katanya.

“Itulah kurangnya keteladanan dan contoh dari pemimpin. Kalau menjadi pejabat publik harus mengetahui tugasnya, yaitu berpikir untuk bangsa dan negara,” ulangnya lagi.

Selain kurangnya keteladanan, tantangan kebangsaan lainnya adalah munculnya paham-paham radikalisme dan terorisme (karena pemahaman agama yang sempit), tantangan pengabaian kepentingan daerah dan munculnya fanatisme daerah (sehingga muncul daerah yang ingin merdeka), kurang berkembangnya kebhinnekaan dan kamajemukan sehingga muncul pertikaian berbau sara seperti kasus pembakaran gereja di Sumatera Utara, serta tantangan lemahnya penegakan hukum.

Selain itu, Indonesia juga menghadapi tantangan kebangsaan dari eksternal. “Yaitu tantangan globalisasi yang menggerus nilai-nilai luhur bangsa,” ujar Mahyudin seraya memberi contoh pengaruh atau akses negatif internet.

Semua tantangan kebangsaan itu, menurut Mahyudin, bisa diatasi dengan Empat Pilar MPR (Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika). “Empat konsensus dasar ini menjadi perekat bangsa yang menjadikan bangsa Indonesia ini tetap utuh,” imbuh Mahyudin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: